SURYA.CO.ID - Rupanya diperlukan pembajakan, penyanderaan seorang kapten kapal yang berkebangsaan Amerika dan waktu lima hari untuk menarik perhatian dunia kembali ke fenomena lama perompakan di Somalia.
Perompak itu juga tahun lalu menjadi berita utama karena kasus pembajakan terbesar di dunia, satu kapal super tanker Arab Saudi yang membawa minyak seharga 100 juta dolar AS dan satu kapal Ukraina yang membawa peralatan militer dalam jumlah besar termasuk 33 tank.
Jauh dari sorotan internasional, gerombolan bajak laut itu telah secara rutin melancarkan serangan selama bertahun-tahun. Setelah penyelamatan kapten kapal AS Richard Phillips, perompak Somalia masih menawan sebanyak 260 sandera, termasuk hampir 100 warganegara Filipina, dan sebanyak 17 kapal yang ditangkap, demikian laporan kantor berita Inggris, Reuters.
Jadi siapa sebenarnya bajak laut modern itu? Ketika para gembong perang menggulingkan mantan diktator Mohamed Siad Barre pada 1991, Somalia terperosok ke dalam kekacauan. Peristiwa itu mengarah kepada gelombang penangkapan ikan secara gelap, ditambah dengan penimbunan limbah industri dan beracun, di perairan Somalia oleh armada asing dari Eropa dan Asia.
Menjelang akhir dasawarsa 1990-an, milisi dan nelayan lokal membentuk beberapa kelompok dengan nama seperti “Penjaga Pantai Somalia” dan “Penjaga Pantai Relawan Nasional”, guna mengusir atau menawan kapal dari Korea Selatan, Italia, Spanyol, Thailand dan dari negara lain.
Semua kelompok tersebut, yang menyaksikan betapa mudahnya menangkap kapal, mengubah dasawarsa itu jadi masa gerombolan bajak laut kuno, dan bahkan menjadi lebih canggih dalam metode dan keberanian. Pada awalnya, perompak yang memakai beberapa senjata api menggunakan kapal penangkap ikan untuk mendekati kapal besar, dan kemudian berusaha memanjat atau melemparkan tali.
Saat mereka memperoleh uang dari tebusan, ditambah pengalaman, mereka membeli kapal cepat, alat pelacak dan senjata yang lebih kuat. Saat ini, satu “kapal induk” pertama melihat sasaran, dan dua kapal cepat kemudian dilepaskan guna mendekati kapal sasaran dari kedua sisi dan perompak naik dengan menggunakan pengait serta tangga.
Perompak kadangkala melepaskan tembakan melewati buritan guna menakuti orang-orang di dalam kapal. Beberapa kapal seringkali berusaha melakukan tindakan pertahanan dengan melakukan gerakan zig-zag di laut atau bahkan menyemprot bajak laut dengan air dengan menggunakan selang bertekanan tinggi.
Namun kebanyakan kapal tak bersenjata, karena mematuhi peraturan kelautan internasional, sehingga para pelaut biasanya menyerah dalam waktu cepat, segera setelah bajak laut naik ke kapal mereka. Para sandera mengatakan mereka biasanya diperlakukan dengan baik, dan bajak laut memandang mereka sebagai orang biasa yang ditangkap dalam permainan yang lebih besar.
Sebagian sandera menyatakan perompak menyembelih dan membakar kambing di kapal untuk memberi mereka makan, dan menyerahkan telefon genggam sehingga mereka dapat menelefon orang yang mereka cintai di rumah.
Pilihan Menarik
Meskipun para tetua suku tak setuju dan mengutuk mereka sebagai “tak bermoral”, jumlah perompak terus bertambah, dan kini ratusan orang melakukan kegiatan dalam jaringan gerombolan. Banyak pemuda miskin dan menganggur di Somalia memandang perompakan sebagai pilihan mempesona bagi hidup mereka yang berat, mengingat uang yang dapat mereka peroleh dengan cepat. Rakyat Somalia akhirnya antri untuk turun ke laut.
Meskipun para tetua suku tak setuju dan mengutuk mereka sebagai “tak bermoral”, jumlah perompak terus bertambah, dan kini ratusan orang melakukan kegiatan dalam jaringan gerombolan. Banyak pemuda miskin dan menganggur di Somalia memandang perompakan sebagai pilihan mempesona bagi hidup mereka yang berat, mengingat uang yang dapat mereka peroleh dengan cepat. Rakyat Somalia akhirnya antri untuk turun ke laut.
Gerombolan bajak laut tersebut berpusat di desa dan kota kecil di sepanjang garis pantai Somalia, di sarang seperti di Eyl, Hobyo dan Haradheere.
Banyak pemilik kapal telah membayar ganti rugi dalam jumlah besar. Awal 2009 saja, perompak Somalia mengantungi lebih dari 6 juta dolar AS dari pembebasan melalui perundingan bagi kapal super tanker Arab Saudi, Sirius Star, dan kapal Ukraina, MV Faina.
Ganti rugi yang dibayarkan selama 2008, ketika 42 kapal ditawan, berjumlah antara 500.000 dan 2 juta dolar AS, kata beberapa ahli. Perompak menanam kembali sebagian uang mereka dalam bentuk kapal dan peralatan yang lebih baik. Mereka juga mengeluarkan banyak uang yang mereka peroleh melalui gaya hidup mencolok, kawin lagi, membangun vila dan membeli kendaraan 4×4. Sebagian bajak laut melakukan penyelundupan.
Penunjang dana dan otak mereka, yang biasanya berusia lebih tua dari perompak muda, mengeruk ganti rugi dalam jumlah besar. Penguasa lokal juga mengambil bagian guna memungkinkan perompak beroperasi tanpa diperiksa di luar daerah mereka.
Banyak pengulas sependapat bahwa cara terbaik dalam memadamkan perompakan di lepas pantai Somalia ialah dengan mewujudkan kestabilan di darat, tempat perang saudara telah berkecamuk selama 18 tahun belakangan.
Empat belas upaya guna memulihkan pemerintah pusat telah gagal sejak 1991, dan upaya ke-15 masih baru dirintis. PBB dan pihak lain berharap pemerintah Presiden Sheikh Sharif Ahmed, yang didirikan awal 2009, adalah kesempatan terbaik dalam upaya mewujudkan perdamaian di Somalia.
Ahmed adalah seorang pemeluk Islam moderat dengan dukungan luas di dalam dan luar Somalia, tapi ia menghadapi aksi perlawanan pejuang garis keras pro-Al-Qaeda dan pemerintahnya benar-benar hanya menguasai sedikit bagian ibukota Somalia, Mogadishu.
Di laut, lebih dari selusin negara telah menyediakan kapal dalam armada patroli angkatan laut di lepas pantai Somalia sejak akhir 2008. Itu menghasilkan penurunan jumlah serangan, terutama di Teluk Aden, tempat patroli dipusatkan. Namun perompak yang lebih berani malah memindahkan operasi mereka lebih jauh ke Samudra Hindia.
Meskipun perhatian dunia telah dipusatkan pada Phillips, kapten kapal berkebangsaan Amerika, dan upaya penyelamatannya, perompakan Somalia mengakibatkan kesulitan yang sangat besar dan stres bagi ratusan sandera yang masih ditawan, terutama dari Dunia Ketiga. Sandera yang dibebaskan mengatakan mereka hidup dalam ketakutan terus-menerus; mereka takut dibunuh oleh bajak laut atau tewas selama upaya penyelamatan.
Mereka juga khawatir akan nasib anak-anak dan istri mereka, yang berada jauh.Sebagian sandera yang selamat mengatakan perompak memukuli mereka, meskipun secara umum perlakuan mereka manusiawi. Sebagian pemilik kapal memutuskan untuk menanggung biaya tambahan dan waktu pengiriman barang dengan memutari Afrika Selatan dan bukan melewati Teluk Aden ke dalam Terusan Suez dalam pelayaran ke Eropa. Premi asuransi telah naik bagi seluruh industri tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar